Prediksi tanpa cinta
Belum sempat menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Lapangan. Tapi Alhamdulillah tulisan ini sudah selesai.
Silakan dibaca kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat saya harapkan☺
KAIFA TARDHO ANTUA'AMILA KHADJA?
Mengapa tega berbuat seperti ini?
Seorang anak yang sudah memasuki usia 18 tahun biasanya membuat kecemasan tersendiri bagi orang tuanya. Terutama ibu, dan terkadang sebagian orang tua mulai melontarkan pertanyaan seperti kapan kamu punya pacar?.. teman kamu sipulanah punya pacar yang tampan kaya lagi.. kamu kapan?,
Hal ini sudah biasa kita dengar dalam kehidupan bermasyarakat, semata-mata yang ia lakukan hanyalah ingin memberikan kebahagian kepada anaknya. Maka, tidak jarang hal ini sering kita temui. tujuannya yang benar, namun caranya yang tidak tepat, menimbulkan persepsi yang berbeda bagi anaknya sehingga menganggap harta adalah segalanya.
Namun pemikiran seperti ini haruslah diubah, siapa yang mengubahnya? Jawabanya “ kita” bukan masalaha dia kaya atau tidak, tapi sejauh mana buah hatinya mampu bahagia bersama orang-orang yang mampu bertanggung jawab dan membimbingnya. Berikan ia pemahaman yang benar, dan alasan yang lugas dengan santun dan lembut. Bisa jadi ia tidak tahu dan kurang mengerti. Karena minimnya pendidikan yang mengharuskanya untuk putus dari bangku sekolah baik itu disebabkan oleh ekonomi, tradisi perjodohan dini dan entah apapun itu penyebabnya, serta minimnya pemahaman seputar agama. Begitu pula halnya ayah, yang untuk menyapa saja tidak sempat, ia terlalu sibuk mengejar dunia berupa harta, tahta semata untuk kita.
Bila saja hal ini terus menerus berulang dan tidak cepat diatasi maka akan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan bisa terjadi. Misalnya ketika seorang anak memutuskan untuk membuat keluarga baru, sang istri lebih banyak menuntut ini dan itu, dan selalu merasa kurang cukup, hingga timbullah perdebatan antara mertua dan menantu sehingga menciptakan jarak antar keduanya yang sering kali menjadi tingkat pertama (I) dan awal retaknya sebuah keharmonisan keluarga.
Sang suami karena tuntutan yang begitu tinggi mengharuskannya untuk lebih dan lebih dalam pekerjaannya, hingga pada akhirnya ia mendapatkan apa yang diinginkannya dengan cara apa saja, maka disini akan terjadi perdebatan tingakat kedua (II). Dimana seorang dokter pernah berkata pada temannya dan saya tidak sengaja mendengarnya bahwa “kesetiaan seorang istri diuji disaat suaminya tidak memiliki apa-apa, sementara kesetiaan seorang suami diuji disaat ia memiliki apa-apa. Artinya wanita hanyut dengan harta, dan pria tergoda karena wanita. Dimana perselingkuhan adalah peluang terbesar menghampiri.
Maka pada tingkat yang ketiga (III) adalah berhujung pada sebuah percerai beraian, dimana anak akan kehilangan hak-hakya, yang berpengaruh pada psikologi dan mentalnya. Semula ia yang periang akan mendadak murung, yang awalnya suka bercerita tiba-tiba menjadi pendiam, yang suka tertawa menjadi seorang pemarah. Karena orang tua adalah dinding yang paling kokoh bagi anaknya, bila dinding itu roboh, maka atap dan jendela tidak akan ada arti sebab semua telah lepas kendali.
Lalu bagaimana dengan yang lain? Seperti KDRT? BROKEN HOME? Dan istilah lainnya? Sangat sulit untuk dibayangkan. Yang dulu katanya bulan madu diawan biru tiada yang mengganggu, engkaulah bintangku, engkaualah nafasku hehehehe. Kaya lirik apa gitu.! π. kemana hilangnya dan tidak berupa hanya sebatas janji manis lewat bibir yang hilang seperti pudarnya lipstik π setelah usai minum dan makan.
Arti cinta yang dulu dimaknai sebagai sayang, kesetiaan dan pengorbanan . indah bila dipandang, rindu bila tidak disapa, kian hilang entah kemana.π Kini menjadi jembatan untuk saling menyakiti dan mengkianati. Bila memang cinta seharusnya ia menjaga, bila memang cinta sebaiknya menghargai dan bila memang cinta sewajibnnya harus mengerti.
Ia yang ditinggal dan sah menyandang gelar janda mengharuskanya untuk terlunta-lunta kemari dan kesana dimana ia harus bisa menopang dua gelar istimewa sekaligus, berperan sebagai ibu yang penuh kelembutan, halus, penuh kasih sayang. Harus pula ikut serta memainkan peran ayah yang dituntut selalu tegar, kuat, pemberani dan berpengorbanan tinggi. Bagi buah hatinya.
Apakah harta tidak perlu?
Siapa bilang tidak!Tentu saja perlu.
Mencari harta demi memenuhi hajat hidup adalah sebuah kewajiban, dalam menjalankan sebuah kewajiban ada aturan dan cara yang telah diajarkan. Salah satunya tidak merampas dan menyakiti hak orang. Baik hak keluarga berupa anak, istri, suami orang tua atau orang lain sekalipun. Dan tidak pula diperbudak oleh nya. Tapi perlu diingat bahwa tidak semua hajat bisa dipenuhi karena manusia tidak akan pernah cukup apalagi terpuaskan.
Ketika hidup hanya untuk harta, maka keluarga korban utamanya. πͺ
Ketika hidup tujuannya hanya harta, maka segala cara halal baginya.πΉ
Ketika hidup didamba hanya harta, maka tidak sedikit yang terluka.π
Jangan!!! bangun rumah tangga sebatas berlandaskan harta! Karena ia akan berakhir percuma dan murka. Tumbuhkan ia dengan iman dan taqwa maka terbukalah pintu bahagia.π
Lihat berapa banyak anak-anak yang terlunta dan meminta-minta dijalan? ππ
Berapa banyak bayi-bayi yang dibuang di tempat sampah layaknya bangkai-bangkai tikus tidak bermakna?πΆπ
Miris memang dan amat menyayat hati.π Tapi itulah yang sering terjadi, sulit untuk dipungkiri bahwa dalam sebuah keluarga tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak pernah ada huru hara,hanya berjalan damai, sentosa dan sejahtera. Maka itu mustahil!! Sebab manusia tidak ada satupun yang sempurna itulah sebabnya Allah menciptakan adam dan hawa menjadi pasangan agar saling menguatkan. Karena disetiap sisi manusia dipenuhi dengan kekurangan dan kelebihan untuk saling tarik-menarik topang-menopang dengan begitu mereka mengerti bahwa yang dihadapi adalah sebuah proses pendewasaan, saling memahami, saling mengerti antar kedua sisi. Imam Syafi’i pernah mengtakan “ lidahmu jangan kau biarkan menyebut kekurangan orang lain... sebab kau pun punya kekurangan dan orang lainpun punya lidah”.
Apakah aku ingin mengajari?
Tidak sama sekali!! Tapi kita harus merenungi.
Apa daya usia ini yang masih pagi, hanya bisa sebatas meraba. Bukan sok pintar dan merasa lebih tua, tapi coba tanya pada diri sendiri. Bukan hanya untuk dia-dia yang menjadi ayah dan bunda namun pada diri sendiri dan juga untuk para calon-calon orang tua. Pada umumnya buat semua. Saya harap tulisan ini mampu mengispirasi saya dan anda disana. Hidup terlalu kejam bila hanya mengandalkan paras yang berpoles pada kecantikan dan ketampanan.ππ¦
Hindari pacaran!!jauhi berdua-duaan. Bila merasa belum mapan. Dan lanjutkan kepernikahan bila orang telah mengijinkan π. Pemahaman yang masih jauh dari kata benar atau tidaknya ini kian terlontar disini, ini hanya sebatas pandangan sempit saya mungkin anda yang lebih berpengalaman disana lebih tahu dan mengerti. Terimakasih
Komentar
Posting Komentar