Refleksi Cinta
Henngg.... Henngg... Henngg ponsel yang diletak diatas meja jam 14.30 saat rapat bergetar. Getarannya membuat para tangan yang berpangku dimeja sontak tersetrum ringan. Tanpa berpikir hani tolak sebuah panggilan masuk dari kakaknya, tidak mempertimbangkan apakah itu hal sangat penting atau tidak. Berkali-kali panggilan yang masuk ia lewatkan layaknya angin.
Mata dan dan telinganya seolah jatuh pada arahan calon pemateri, iya terkagum-kagum sampai lupa dengan janji yang telah ia ikrarkan pagi tadi, seolah tidak mau melewatkan sedetikpun.
Waktu terus berjalan, dari detik kemenit dan Menik ke jam, tidak terasa tepat jam 17.30 ia tersadar. "Ya Allah, astagfirullah aku lupa" gumamnya dalam hati seraya menepuk jidan dan mengejutkan jidat. "Apa yang harus ku lakukan"??.
"Ingat juga kamu jalan pulang? Jam berapa ini? Kamu bilang hanya rapat sebentar aku tidak mengira ternyata sebentarmu itu seperti ini, tau begini aku batalkan saja pemesanan biar ngga buat pelanggan kecewa. Kamukan tahu aku itu janda, ditinggal mati oleh suami saat mengandung usia dua Minggu, punya anak dua yang harus aku beri makan dan sekolah, menurutmu apakah aku pantas bersikap santai sepertimu? Andai kau tahu apa yang aku pikirkan, pasti kau tidak sanggu walau hanya untuk mendengarkan". Amarah kakaknya memuncak ia hanya bisa tertunduk menyesal sesekali air matanya jatuh membasahi jilbabnya. Bukan sekali dua kali pastinya Hani membuat kesalah.
Kecerobohannya seolah membuat ia jatuh dilubang yang sama. Hani diam seribu bahasa pelan- pelan ia nyalakan motornya sebelum pergi dibawanya beberapa bingkisan yang siap diantar ke calon tuannya, masing-masing bingkisan sudah tertera alamat dan kontak yang bisa dihubungi. Salah satu tempat pertama adalah rumah disamping SD 04. Sayangnya ia tidak terlalu kenal daerah itu. Berulang kali ia telpon calon konsumen namun ia tetap tidak tahu, hingga akhirnya ia memutuskan membuat stori di salah satu akun medsosnya.
Satu menit kemudian berjalan satu demi satu pesan bermasukan dan Sudi memberi kabar baik hingga ia temukan alamat yang ia cari.
"Alhamdulillah, kasih sayangmu teramat luas tapi aku selalu pikiran sempat terhadap nikmat" ucapnya dalam hati.
Alamat berikutnya adalah kampong sosor penaggalan tepatnya rumah sekdes (sekretaris desa) kabarnya beliau sangat masyhur dengan panggilan seksed bintang.
"Assalamualaikum ... Permisi! Maaf Bu numpang tanya apa benar ini rumah pak sekdes bintang"?
"Bukan, rumahnya itu didepan sekitar 50m lagi dari sini lebih tepatnya 5 rumah dari sini"
"Ohh begitu, baik Bu terimkasih banyak assalamualaikum..." Ucap Hani kepada ibu-ibu yang sedang berkumpul itu. Ia merasa bahagia hal ini tampak dari senyum dipipinya entah apa yang membuatnya bertingkah seperti orang yang sedang kasmaran.
" Assalamualaikum... Apa benar ini rumah pak sekdes bintang?"
Belum sempat dijawab oleh tuan rumah tiba-tiba seorang wanita paruh baya memanggilnya dari rumah samping sebelah kanan atau bisa dikatakan tetangga sedinding.
"Dek sini!! Mau antar dodol kan"?? Tanyanya pada Hani.
"Iya Bu, kok ibu tau siih"?
"Ya iyalah itu pesanan saya, karena biar orang lebih mudah mencari alamat saya, karena pak sekdes cukup terkenal di daerah sini, selain itu beliau juga tokoh yang sangat disegani, siapa sih yang tidak kenal dengan beliau" kata wanita itu.
"Ohh begitu, baiklah mba ini pesanannya 40.000 ditambah ongkir 5.000 totalnya menjadi 45.000" ia tersenyum sambil
memberikan dodol itu.
" Oke, ini uangnya terimakasih"
"Terimkasih kembali mba" ucap Hani berlahan sambil meninggalkan rumah pak sekdes itu dengan hati yang sedikit kecewa.
Saat iya mulai menghidupkan motor miliknya serontak pak sekdes beserta istri dan anak bungsunya tiba didepan rumahnya.
"Hai nak, ada yang bisa saya bantu"? Tanya pak Dedes padanya.
"Tidak pak, tadi saya pikir pak sekdes yang pesan dodol saya ternyata tetangganya heheh". Senyum terpaksanya seolah menjelaskan ada hal yang ingin ia sampaikan
"Lalu, kalau dia tetangga pak sekdes bintang ada yang salah"? Pak sekdes semakin penasaran.
"Ngga pak, bukan itu maksud saya. Saya hanya berharap kalau saya bisa jumpa dengan pak sekdes bintang itu barang kali ada ikatan keluarga atau saudraa gtu, soalnya saya juga Beru bintang" jelas Hani.
"Hahh Beru bintang"? Tanya kembali
"Iya pak"
"Dari mana asalmu maksud saya kampung mu?
"Suka makmur pak, kenapa pak"? Tanya Hani balik
"Perkenalkan akulah pak sedes bintang yang kau cari itu" tawa lebar dan suara pakpak khasnya keluar.
"Yaa Allah benarkah? Alhamdulillah betapa senagnya hatiku bisa berjumpa dengan bapak hilang rasa lelahku hari ini pak ini sebuah keberuntungan dan berkah. Ucap Hani
" Aku juga senang bisa berjumpa dengan mu, anak siapanya kau? Anak Gani kah"? Ia bertanya kembali
"Iya pak benar sekali, bapak kok bisa tau"? Kali ini Hani yang diburu rasa penasaran.
"Panggil aku poli (kakek). Polimunya aku sama-sama dari Dairi kita desa bintang mersada sampikan itu pada bapakmu, dia juga sudah cukup lama tidak pernah lagi mengunjungiku, Kalau begitu selfie lah dulu kita lalu nanti berbagi kontak biar terus jalan sitarurahim kita" ucap si poli yang tidak lain adalah pak sekdes itu sendiri.
Obrolan mereka tidak putus-putus hingga jam menunjukkan pukul 20.30 wib. Kebiasaan Hani salah satunya adalah suka lupa waktu kalau sudah berjumpa dengan saudara, teman maupun gurunya sepertinya banyak hal yang ingin dibagi tapi apa boleh buat pertemuan harus berakhir disini sebab ada satu pesanan lagi yang harus ia antarkan.
Bersambung......
Selepas mengantarkan pesanan dan berbincang panjang dengan sang poli(kakek) serta sempat mengambil beberapa gambar bersama (selfi) akhirnya hani ijin pulang.
Malam kian larut dan dingin. tempat antaran terakhir adalah simpang perumnas tepatnya simpang 4 menuju perkantoran pemerintah dari arah barat disana ada kantor walikota, dinas pendidikan, Bapedda dan bebebrapa instansi pemerintah lainnya.
Entah apa yang merasuki Hani, kali ini ia tidak tampak lelah justru sebaliknya ia kelihatan bahagia hal ini dibuktikan dengan senyum sumringah diwajahnya.
"Ohh iya aku lupa! Ternyata ada janji dengan zuki, Oalah pasti dia sudah menungguku lama" berbicara seorang diri.
Zuki adalah teman dekat sekaligus teman baik sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai saat ini. Sebelum rapat tadi siang ia memang sudah dikabari oleh zuki mereka sepakat membuat akad jumpa malam ini ba'da isya karena ada beberapa hal yang dianggap penting yang harus dibicarakan terkait peran pemuda dalam pertanian demi kemajuan bersama lebih tepatnya mungkin seperti kongkaw-kongkow, atau berkombur sharing dan sejenisnya you know lah!
Setiba dirumah zuki, Hani dapati ayahnya yang sedang duduk santai dengan seorang temanya. "Assalamualaikum... patua(paman) zukinya ada? Tanya Hani.
"Wa'alaikumussalam"... Ada masuk aja terus, barusan zuki bilang kalau dia mau keluar kebetulan sekali kamu datang disaat yang tepat, ayo nak! Silahkan masuk jawab patua yang sudah di anggap seperti keluarga.
Rasa ragu membuatnya berat untuk berkata sebab ia sadar bertamu di jam selarut ini pastilah mengganu kenyamanan siapa saja terlebih dia seorang wanita tidak seharusnya keluar di atas jam 10 malam. Tapi, karena rasa bersalah dan penolakan atas beberapa kali sebelumnya membuatnya memaksakan diri untuk jumpa. Hani langsung masuk ia dapati ibunya zuki sedang menonton diruang tamu.
"Assalamualaikum... tua"
Sembari mengambil tangan kanan dan menciumnya sebagai tanda ihtirom kepada yang lebih tua.
"Wa'alaikumussalam.. nak, oh.. Hani sini duduk nak! Jangan duduk dilantai nanti masuk angin" sambut hangat ibunya zuki.
"Ada apa Han??
Apa yang bisa dibantu"? tanyanya.
" Tidak apa-apa tua, hanya ingin jumpa zuki aja". Jelasnya.
"Kiii... Kemari ada Hani nii cari kamu!" Teriak ibunya. Tidak lama setelah itu zuki keluar dari kamarnya.
"Ehh kamu Han, kirain tidak jadi datang, baru saja aku mau pergi" sapa Zuki padanya.
" Wahh,, wajahmu kusam sekali sepertinya pengaruh tanggal tua ya atau jangan-jangan karena datangnya terlalu ontime" tambah zuki sambil berhiperbola.
"Heheheh.... No komen aku kii, aku minta maaf datang tidak sesuai akad" sembari memberi penjelasan apa saja yang ia kerjakan satu harian ini. Panjang lebar mereka bercerita sesekali ibunya ikut menimpali pembicaraan mereka. Waktu menunjukkan jam 00.00 lebih. Dan hani pun ijin pamit pulang sesampainya di rumah ia jumpai ayah, ibu dan adiknya sudah tertidur pulas. Dalam hatinya berbisik sudah jam berapa ini han, tak tega ada rasa sedih juga sampai tidak ada waktu tanya kabar dan berbincang dengan mereka. Hanya bisa diam sambil mengelus dada.
Seringkali perkara yang dianggap biasa justru bahkan berakibat patal. Menciptakan kerenggangan antara anak dengan orang tua, komunikasi yang kurang aktif sampai terkadang kurang harmonis. Ini adalah ketakutan terbesar Hani, barang kali pembaca juga merasakan hal yang sama.
Tidak bisa dipastikan mana yang lebih prioritas diatas prioritas.
"Ting..." Satu pesan lewat WhatsApp masuk
"Assalamualaikum kak Hani ini bungsu, kakak lagi dimana? Bisakah kita bertemu sekarang? Ada beberapa hal yang harus kita bahas terkait persiapan literasi santri" (sekretaris terpilih dalam rangka GLS )
Seperti biasa kalau namanya berkombur pasti suka lupa waktu tidak ada wakofnya
Komentar
Posting Komentar